Jerawat dikalangan
remaja
JERAWAT DI KALANGAN REMAJA
Antung Cahaya
Program Studi S1
Farmasi
STIKES BORNEO
LESTARI BANJARBARU
Email : antungcahaya13@gmail.com
A.
Pendahuluan
Jerawat (acne) adalah gangguan pada kulit
yang berhubungan dengan produksi minyak (sebum) berlebih. Hal tersebut
menyebabkan peradangan serta penyumbatan pada pori-pori kulit. Peradangan
ditandai dengan munculnya benjolan kecil (yang terkadang berisi nanah) di atas
kulit. Gangguan kulit ini biasa terdapat di bagian tubuh dengan kelenjar minyak
terbanyak, yaitu di wajah, leher, bagian atas dada, dan punggung.
Pada remaja, jerawat lebih sering terjadi
pada pria dibanding wanita. Namun saat memasuki usia dewasa muda, jerawat lebih
mudah terjadi pada wanita dibanding pria. Umumnya jerawat terjadi di usia 14-17
tahun pada wanita, 16-19 tahun pada pria. Walau tak menutup kemungkinan bahwa
jerawat juga bisa hadir di usia yang lebih dewasa.
Pada dasarnya jerawat bukanlah penyakit
berbahaya. Ini adalah kondisi umum yang bisa terjadi pada siapa pun. Meski
demikian, jerawat dapat meninggalkan bekas-bekas luka (acne scar), yaitu
jaringan parut akibat penyembuhan jerawat yang tidak sempurna. Hal ini
seringkali mengurangi kepercayaan diri orang yang mengalaminya.
B.
Isi
Salah satu penyakit kulit yang selalu
mendapat perhatian bagi para remaja dan dewasa muda adalah jerawat atau dalam
bahasa medisnya acne vulgaris. Penyakit ini tidak fatal, tetapi cukup
merisaukan karena berhubungan dengan menurunnya kepercayaan diri akibat
berkurangnya keindahan wajah penderita (Yuindartanto, 2009). Meskipun Acne
vulgaris tidak menimbulkan fatalitas, tetapi Acne dapat cukup merisaukan karena
berhubungan dengan menurunnya kepercayaan diri akibat berkurangnya keindahan
pada wajah penderita (Efendi, 2008).
Acne vulgaris adalah suatu keadaan dimana
pori-pori kulit tersumbat sehingga timbul bruntusan (bintik merah) dan abses
(kantong nanah) yang meradang dan terinfeksi pada kulit. Jerawat sering terjadi
pada kulit wajah, leher dan punggung. Baik laki-laki maupun perempuan (Susanto,
2013).Acne dikatakan hingga 80% populasi pada satu saat. Gambaran khas adalah
timbul pada remaja, sering kali yang sedang mengalami tanda-tanda awal
pubertas, dengan beragam lesi yang hilang timbul. Dapat ditemukan beberapa jenis
kulit lesi (Bourke, 2011).
Adapun berbagai faktor. Penyebab acne
sangat banyak (multifactorial), antara lain : genetik, endoktrin, faktor
makanan, keaktifan, dari kelenjar sebasea sendiri, faktor psikis, iklim,
infeksi bakteri (Propionibacterium acnes), dan kosmetika (Victor, 2010).
Insidensi tertinggi terdapat pada perempuan antara umur 14–17 tahun dan pada
laki-laki antara umur 16–19 tahun. Tetapi dapat pula timbul pada usia di atas
40 tahun dan penyakit ini dapat pula menetap pada usia lanjut. 10% kasus
didapat pada usia 30–40 tahun. Bentuk yang lebih berat dari akne terdapat pada
kira-kira 3% lakilaki, lebih jarang pada perempuan (Rahmawati, 2012).
Perilaku sosial, psikologis, dan emosional
yang berasal dari akne telah dilaporkan mirip dengan perilaku yang terdapat
pada epilepsi, asma, diabetes, dan artritis. Pasien akne yang diperiksa di
pusat pelayanan tersier cenderung mengalami depresi, kecemasan, menarik diri
dari pergaulan sosial, kemarahan, serta cenderung tidak memiliki perkerjaan
dibandingkan dengan yang tidak mengalami akne (Andri, 2009). Penyakit kulit
bukan merupakan penyakit yang berbahaya namun mempunyai dampak yang besar bagi
para remaja baik secara fisik maupun psikologik dapat menimbulkan kecemasan dan
depresi. Wajah yang berjerawat akan berpengaruh pula pada perkembangan
psikososial termasuk kepercayaan diri (Saragih, 2016).
Remaja dalam perkembangannya, dihadapkan
oleh berbagai perubahan mencakup perubahan biologis dan psikologis. Perubahan
biologis yang terdiri dari peruahan fisik merupakan pencetus yang berdampak
pada tahap psikis. Perubahan kondisi fisik inilah yang berpengaruh pada
kepercayaan diri. Penampilan fisik seperti wajah berjerawat yang tidak sesuai
dengan gambaran ideal seorang remaja akan menimbulkan ketidakpuasan sehingga
menimbulkan rasa kurang percaya diri (Ompi, 2016).
C.
Kesimpulan
Jerawat (acne) adalah gangguan pada kulit
yang berhubungan dengan produksi minyak (sebum) berlebih. Hal tersebut
menyebabkan peradangan serta penyumbatan pada pori-pori kulit. Peradangan
ditandai dengan munculnya benjolan kecil (yang terkadang berisi nanah) di atas
kulit. Gangguan kulit ini biasa terdapat di bagian tubuh dengan kelenjar minyak
terbanyak, yaitu di wajah, leher, bagian atas dada, dan punggung. Adapun
berbagai faktor. Penyebab acne sangat banyak (multifactorial), antara lain :
genetik, endoktrin, faktor makanan, keaktifan, dari kelenjar sebasea sendiri,
faktor psikis, iklim, infeksi bakteri (Propionibacterium acnes), dan kosmetika.
Daftar
pustaka
Andri. (2009). Cara Pandang Psikologis Akne
Vulgaris:Berhubungan dengan stress dan Gejala Psikiatrik. Bagian ilmu kesehatan
jiwa FK UKRIDA. Di unduh dari : http://ejournal.ukrida.ac.id/ojs/index.
php/Ked-/article/download/199/195 (di akses tanggal 1 oktober 2016.
Bourke, J, R, G, B & Tim Cunliffe. (2011).
Dermatologi Dasar untuk praktik klinik. Jakarta : EGC.
Ompi, E, E. (2016). Hubungan tingkat kepercayaan
diri dengan jerawat(acne vulgaris) pada remaja di sma n 7 manado. Diunduh dari
http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php /ebiomedik/article/view/11049 (di akses
tanggal 8 oktober 2016).
Saragih, D, F. (2016). Hubungan tingkat kepercayaan
diri dan jerawat (acne vulgaris) pada siswa-siswi kelas XII di SMA N 1 Manado.
Di unduh dari http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php
/ebiomedik/article/vi-ew/12137 (di askes tanggal 8 oktober 2016).
Yuindartanto, A. (2009). Acne vulgaris. Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Diunduh dari http:/yumizone.wordpress.com/20-
09/01/07/acne/ (di akses tanggal 10 oktober 2016
Susanto, R, C. & G A Made Ari M. (2013).Penyakit
Kulit Dan Kelamin. Yokyakarta : Nuha Medika.

